Kamis, 11 Juni 2026

Silaturahmi dan Konsolidasi, PAC PERGUNU Bojonggede Siapkan Pelantikan dan Program Penguatan Guru

Kompassantri-online, Bogor – Pengurus Anak Cabang (PAC) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Kecamatan Bojonggede melakukan silaturahmi dan koordinasi organisasi dengan Pengurus Cabang (PC) PERGUNU Kabupaten Bogor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Rabu (10/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 15.30 hingga 18.30 WIB tersebut dihadiri oleh Ketua PC PERGUNU Kabupaten Bogor Hj. Balqis, Sekretaris PC PERGUNU Kabupaten Bogor Kang Ass, Wakil Sekretaris PC PERGUNU Kabupaten Bogor Abdul Hakim, pengurus PC PERGUNU Kabupaten Bogor Hasan, serta Ustadzah Maghfiroh yang merupakan Wakil Ketua PERGUNU Kabupaten Bogor periode sebelumnya.

Sementara dari PAC PERGUNU Bojonggede hadir Ketua Ustadz Suhendar, Sekretaris Ustadz M. Mustaqim, Bendahara Ustadzah Rosmalina, Ceng Badrun, serta jajaran pengurus lainnya.

Pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk memperkenalkan jajaran pengurus PAC PERGUNU Bojonggede sekaligus melaporkan berbagai progres organisasi sejak terbentuknya kepengurusan di tingkat kecamatan.

Ketua PAC PERGUNU Bojonggede, Ustadz Suhendar, memaparkan sejumlah langkah yang telah dilakukan, mulai dari pembentukan struktur kepengurusan, silaturahmi ke sejumlah tokoh masyarakat dan pesantren, hingga proses pengajuan rekomendasi kepada MWCNU Kecamatan Bojonggede sebagai bagian dari tahapan administrasi organisasi.

“Kami telah bergerak melakukan silaturahmi ke beberapa tokoh masyarakat dan ulama untuk meminta nasihat serta dukungan terhadap keberadaan PERGUNU di Bojonggede. Selain itu, kami juga sedang membangun komunikasi dengan berbagai pihak untuk memperkuat struktur organisasi dan menjaring guru-guru yang siap berkhidmat bersama PERGUNU. Dalam waktu dekat kami juga akan sowan ke MWCNU Bojonggede terkait permohonan surat rekomendasi,” ujar Ustadz Suhendar.

Selain melaporkan perkembangan organisasi, PAC PERGUNU Bojonggede juga menyampaikan rencana program ke depan, di antaranya pelantikan dan rapat kerja setelah terbitnya Surat Keputusan (SK), pelatihan bagi para guru, pendataan anggota, serta penguatan silaturahmi ke sekolah-sekolah dan pondok pesantren di wilayah Bojonggede.

Dalam arahannya, Ketua PC PERGUNU Kabupaten Bogor, Hj. Balqis, memberikan motivasi kepada jajaran PAC PERGUNU Bojonggede agar terus bergerak dan memperluas jaringan organisasi di tengah masyarakat.

“PERGUNU harus hadir di tengah masyarakat. Teruslah bergerak, sambung silaturahmi dengan berbagai elemen, hadiri kegiatan-kegiatan masyarakat, dan gunakan atribut batik PERGUNU sebagai media syiar untuk mengenalkan organisasi. Bangun komunikasi dengan lembaga pendidikan, yayasan, pesantren, dan sekolah, serta rangkul guru-guru formal maupun nonformal agar semakin banyak yang bergabung dan berkhidmat bersama PERGUNU,” pesan Hj. Balqis.

Pada kesempatan tersebut juga dibahas sejumlah program kerja yang dapat disinergikan antara PAC dan PC PERGUNU Kabupaten Bogor, seperti penyelenggaraan sarasehan bagi pengurus dan anggota, pendataan anggota PERGUNU, silaturahmi ke lembaga pendidikan, serta kolaborasi kegiatan dengan berbagai organisasi dan lembaga seperti PGRI, MUI, dan Forum Pondok Pesantren (FPP).

Silaturahmi ini diharapkan menjadi langkah awal yang semakin memperkuat konsolidasi organisasi dan mempercepat gerakan PERGUNU di Kecamatan Bojonggede dalam mewujudkan penguatan peran guru Nahdlatul Ulama di tengah masyarakat.

Kontributor: Abdul Hakim.

KH Syihabuddin Ahmad dan Kemenag Depok Hadiri Purna Siswa MI Nurul Falah Arman, 177 Siswa Lulus 100 Persen

Kompassantri-online, DEPOK — Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Falah Arman menggelar kegiatan Purna Siswa dan Munaqasyah Juz 30 bagi siswa kelas VI Tahun Pelajaran 2025/2026 pada Rabu (10/6/2026) di Gedung Paspampres. Sebanyak 177 siswa dinyatakan lulus dengan persentase kelulusan mencapai 100 persen.

Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh haru dengan dihadiri Ketua Yayasan MI Nurul Falah Arman KH Syihabuddin Ahmad yang juga menjabat sebagai anggota Majelis Ulama Indonesia Kota Depok, Kepala Kementerian Agama Kota Depok H. Dede Supriatna, Pengawas Madrasah Cimanggis H. Babas, anggota DPRD Kota Depok H. Ade Ibrahim, para guru, tenaga kependidikan, komite madrasah, orang tua siswa, serta tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, Kepala Kementerian Agama Kota Depok H. Dede Supriatna memberikan motivasi kepada para siswa agar terus bersemangat dalam menuntut ilmu.

"Masa depan harus dibeli dengan harga hari ini. Belajar dengan sungguh-sungguh hari ini akan menentukan kualitas kehidupan di masa depan," pesannya.

Sementara itu, Ketua Yayasan KH Syihabuddin Ahmad mengingatkan pentingnya kesiapan generasi muda dalam menghadapi perubahan zaman yang terus berkembang.

"Persiapkan ilmu karena setiap zaman akan berbeda. Perkembangan teknologi, arus globalisasi, dan dinamika sosial akan terus berubah. Karena itu, bekali diri dengan ilmu pengetahuan dan akhlak yang baik agar mampu menghadapi tantangan masa depan," tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Madrasah Hj. Nurbaiti menyampaikan apresiasi kepada seluruh siswa yang telah menyelesaikan pendidikan di MI Nurul Falah Arman. Ia juga berpesan agar para lulusan tidak cepat berpuas diri dengan capaian yang telah diraih.

"Jangan merasa puas dengan hasil hari ini. Teruslah belajar, teruslah berkembang, karena perjalanan menuntut ilmu masih panjang," ujarnya.

MI Nurul Falah Arman sendiri merupakan salah satu madrasah yang memiliki sejarah panjang dalam dunia pendidikan. Berdiri sejak tahun 1976, madrasah ini kini memiliki 59 guru dan tenaga kependidikan dengan jumlah peserta didik mencapai 1.004 siswa. Dengan jumlah tersebut, MI Nurul Falah Arman menjadi salah satu madrasah unggulan sekaligus memiliki jumlah siswa terbanyak di Kota Depok.

Ketua Komite Madrasah, Fitri, menyampaikan rasa syukur dan kebanggaannya dapat menjadi bagian dari keluarga besar MI Nurul Falah Arman. Menurutnya, kepercayaan masyarakat terhadap madrasah ini terus meningkat karena kualitas lulusannya yang terbukti mampu melanjutkan pendidikan ke berbagai sekolah dan perguruan tinggi unggulan.

"Saya bersyukur bisa menjadi bagian dari keluarga besar Nurul Falah. Saya selalu mempercayakan pendidikan anak saya di sini karena banyak lulusan Nurul Falah yang berhasil melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi unggulan di Depok dan meraih kesuksesan di berbagai bidang," ungkapnya.

Ketua Panitia Ahmad Riyadi dalam laporannya menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung suksesnya kegiatan tersebut.

"Kami menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada Kepala Madrasah, dewan guru, seluruh staf, serta segenap panitia yang telah bekerja keras dan bekerja sama demi menyukseskan acara ini. Terima kasih juga kepada para orang tua dan wali murid atas kepercayaan dan dukungan penuh yang diberikan kepada madrasah selama enam tahun ini," katanya.

Ia juga menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh siswa kelas VI yang telah menyelesaikan pendidikan dasar di madrasah tersebut.

"Hari ini adalah gerbang awal dari perjalanan panjang kalian. Jagalah selalu nama baik almamater serta amalkan ilmu dan nilai-nilai agama yang telah diajarkan di madrasah ini di mana pun kalian berada," pesannya.

Rangkaian kegiatan Purna Siswa dan Munaqasyah Juz 30 berlangsung meriah dan penuh rasa syukur. Selain prosesi pelepasan siswa, kegiatan ini juga menjadi momentum apresiasi atas capaian para peserta didik yang telah menyelesaikan hafalan Juz 30 sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter dan keagamaan di madrasah.

Acara kemudian ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Sholahuddin, memohon keberkahan dan kesuksesan bagi seluruh lulusan agar menjadi generasi yang berilmu, berakhlakul karimah, dan bermanfaat bagi agama, bangsa, dan masyarakat.

Kontributor: Abdul Hakim

Trilogi Eksistensi Manusia: Al-Qur'an sebagai Kompas, Angan-angan sebagai Tirai, dan Ajal sebagai Kepastian

Refleksi tafsir al-Amtsal QS al-Hijr 1-5

 Mahdi.Alatas

Kompassantri-online , Kesadaran manusia sering kali terjebak dalam sebuah paradoks ruang dan waktu. Di satu sisi, manusia adalah makhluk yang rapuh dan fana, namun di sisi lain, ia kerap berperilaku seolah-olah memiliki keabadian di dalam genggamannya. Manusia hidup dalam ketegangan eksistensial: diburu oleh waktu yang terus menyusut, namun secara psikologis gemar menangguhkan orientasi tertingginya demi pemuasan kedisinian.
          Sejak awal penciptaan, eksistensi manusia bergerak di antara tiga kutub ontologis yang saling memengaruhi: petunjuk yang menuntun jalannya, ilusi yang membuai kesadarannya, dan waktu yang mengepung ruang geraknya.
          Dalam pembukaan Surah Al-Hijr ayat 1 sampai 5, Al-Qur'an membedah ketiga dimensi ini melalui struktur narasi yang sangat dramatis. Untaian ayat ini bukan sekadar rekaman sejarah atau kronik tentang kaum masa lalu yang binasa. Ia merupakan sebuah cetak biru eksistensial yang memuat hukum universal (Sunnatullah)—sebuah analisis mendalam mengenai anatomi kesadaran manusia, baik sebagai subjek individu maupun sebagai entitas kolektif dalam sebuah peradaban.
 
I. Al-Qur'an sebagai Kompas: Penunjuk Jalan di Tengah Badai Relativitas
          Secara epistemologis, manusia adalah makhluk pencari kebenaran. Namun, ketika ia dihadapkan pada dunia yang dipenuhi oleh relativitas moral, benturan opini, dan banjir informasi, pencarian tersebut sering kali berujung pada disorientasi akut. Manusia membutuhkan sebuah jangkar kebenaran objektif yang tidak ikut bergeser saat zaman berubah. Di sinilah Al-Qur'an memproklamasikan dirinya sebagai kompas utama eksistensi melalui ayat pertama: “Alif Laam Raa. Itulah (Tilka) ayat-ayat Al-Kitab dan Qur'an yang jelas (Mubin).”
          Terdapat rahasia sastra (balaghah) yang sangat memikat pada awal ayat ini. Al-Qur'an menggunakan kata tunjuk jauh Tilka (Itu), yang dalam struktur bahasa Arab umumnya digunakan untuk menegaskan jarak spasial. Penggunaan terma ini dalam konteks wahyu tidak merujuk pada jarak fisik, melainkan jarak makam dan derajat (Uluwul Manzilah). Allah mengisyaratkan bahwa teks yang dihadapi manusia memiliki otoritas spiritual yang transenden, suci, dan terbebas dari relativisme pikiran manusia yang labil.
          Melalui ketersambungan makna, ayat pertama ini membagi Al-Qur'an ke dalam dua lapis eksistensi yang saling melengkapi. Pertama, sebagai Al-Kitab, yaitu hakikat wahyu pada level puncaknya yang kokoh, tunggal, dan metafisik di alam malakut atau Ummul Kitab. Kedua, sebagai Qur'an Mubin, yaitu manifestasi wahyu yang telah ditunju-turunkan derajat wujudnya agar membumi, dapat diakses oleh rasio, dan memancarkan kejelasan yang benderang untuk mengikis kebingungan manusia.
          Penulis Tafsir Al-Amtsal menolak keras argumen sebagian mufasir yang mereduksi kata Al-Kitab di sini sebagai Kitab Taurat atau Injil. Mengingat Surah Al-Hijr diturunkan di Makkah untuk menghadapi kaum musyrik Quraisy, ayat ini merupakan sebuah maklumat mutlak: Al-Qur'an adalah satu-satunya kompas peradaban yang otoritatif, kokoh, dan bertindak sebagai hakim tunggal yang memisahkan antara kebenaran hakiki dan prasangka manusia yang fana.
 
 
 
II. Angan-angan sebagai Tirai: Ilusi Pembius yang Menurunkan Derajat Manusia
          Ketika manusia menolak kompas objektif tersebut, ruang kesadarannya tidak akan pernah kosong. Secara otomatis, ia akan memasang sebuah "tirai ilusi" dalam pikirannya sendiri. Pola ini digambarkan dengan sangat tajam pada ayat berikutnya:
 
“Boleh jadi (Rubama) orang-orang kafir itu menginginkan, sekiranya mereka dahulu menjadi orang-orang muslim. Biarkanlah mereka (Dzarhum) makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan...”

Melihat penolakan yang dilakukan manusia secara sadar, Allah merespons mereka dengan sebuah kalimat pembiaran yang bernada sangat dingin dan transenden: Dzarhum (Biarkan mereka!). Dalam konseptualisasi spiritual, ini disebut sebagai Khidlan atau penelantaran ilahi.
Ini merupakan bentuk hukuman tertinggi di mana Tuhan berhenti menegur ego manusia; sebuah fase di mana manusia dibiarkan berjalan menuju kebinasaannya sendiri akibat pilihan bebasnya yang keliru.
          Ketika tirai penelantaran ini telah menutup kesadaran, maka secara eksistensial derajat kemanusiaan seseorang akan mengalami degradasi yang sangat tajam. Orientasi hidup manusia menyusut secara radikal hanya pada level biologis dasar, yaitu sekadar makan, minum, dan memuaskan kesenangan materi (ya’kulu wa yatamatta'u), sehingga mereka kehilangan sensitivitas terhadap dimensi spiritual. Jiwa mereka dibius oleh panjang angan-angan kosong, melahirkan halusinasi bahwa dunia ini tidak memiliki batas akhir dan membuat mereka lupa akan keniscayaan kematian.
          Namun, Al-Qur'an segera merobek tirai ilusi tersebut dengan membocorkan benturan psikologis yang akan terjadi di alam pascakematian. Menggunakan kata Rubama (Boleh jadi)—yang dalam konteks ini mengandung makna penegasan yang intens—Allah menggambarkan sebuah penyesalan yang sangat mendalam ketika realitas akhirat tersingkap secara mutlak.
          Sebuah riwayat jika kita merujuk pada Tafsir Al-Amtsal melukiskan dialektika akhirat tersebut secara dramatis. Kelalk, berdasarkan keadilan dan rahmat-Nya, Allah mengeluarkan orang-orang beriman yang berdosa dari neraka Jahannam setelah mereka melampaui proses pembersihan spiritual. Ketika menyaksikan gelombang umat Muslim yang berdosa itu dievakuasi menuju surga karena modal iman dan syafaat, orang-orang kafir yang tertinggal dalam siksaan abadi mengalami guncangan psikologis yang hebat. Di titik itulah mereka meratap histeris, membayangkan andai saja dulu di dunia mereka memiliki jiwa yang pasrah dan berserah diri sebagai muslim, niscaya mereka akan ikut keluar dari kurungan siksa hari itu. Sebuah hasrat spiritual yang sayangnya telah kehilangan ruang aktualitasnya.
 
III. Sekat Etis Keinginan: Angan-angan Boleh, tetapi Jangan Berlebihan
          Melalui potret tragis orang-orang yang terbius oleh ilusi duniawi, Al-Qur'an pada hakikatnya tidak sedang melarang manusia untuk memiliki harapan atau keinginan. Harapan adalah penggerak eksistensi. Tanpa adanya ekspektasi terhadap masa depan, roda peradaban tidak akan pernah bergerak, dan manusia akan kehilangan motivasi untuk berkreasi, menuntut ilmu, maupun membangun kehidupan.
          Namun, Islam memberikan batasan etis yang sangat tegas untuk membedakan antara dinamika keinginan yang menghidupkan jiwa dan angan-angan yang mematikan akal. Batasan pertama disebut sebagai Raja' atau harapan yang sehat. Ini merupakan cita-cita tinggi yang melahirkan optimisme, ditopang oleh usaha yang nyata di dunia, dan selalu menempatkan Al-Qur'an sebagai kompas utamanya dengan target menjadikan dunia sebagai ruang kultivasi bagi kebahagiaan ukhrawi.
          Sebaliknya, batasan yang destruktif disebut sebagai Al-Amal, yaitu angan-angan yang berlebihan. Ini merupakan ekspektasi liar yang menuntut hasil tanpa mau berproses, melahirkan keserakahan materialistik, membuat manusia gemar menunda pertobatan, dan menumbuhkan delusi seolah-olah waktu hidup bersifat tak terbatas. Prinsip filosofisnya sangat mendasar: berangan-anganlah sewajarnya untuk menata kehidupan di dunia, tetapi jangan pernah berlebihan hingga kehilangan kesadaran bahwa waktu eksistensi kita di dunia sedang berjalan mundur.
 
IV. Ajal sebagai Kepastian: Hitung Mundur Kosmis yang Tak Berkompromi

Pembiaran yang dialami oleh manusia-manusia yang terbius angan-angan sering kali menimbulkan pertanyaan filosofis mengenai keadilan. Mengapa kezaliman dan kesombongan seolah dibiarkan melenggang tanpa konsekuensi langsung di dunia? Al-Qur'an menjawabnya melalui dimensi waktu pada ayat 4 dan 5: “Dan Kami tidak membinasakan suatu negeri pun, melainkan sudah ada ketentuan yang ditetapkan baginya (Kitab Ma'lum). Tidak ada suatu umat pun yang dapat mendahului ajalnya, dan tidak (pula) dapat menundanya.” Allah tidak pernah alpa; Dia sedang memberlakukan sistem Kitab Ma'lum—sebuah jadwal hitung mundur (countdown) kosmis yang bergerak secara mekanis dan presisi.
Para pemikir besar Islam memberikan analisis yang sangat komprehensif mengenai bagaimana batas waktu ini mengepung kehidupan. Allamah Tabataba'i dalam Tafsir Al-Mizan memberikan catatan sosiologis yang tajam dengan menyoroti terma Ummat (komunitas/bangsa). Beliau menjelaskan bahwa batas usia tidak hanya berlaku bagi individu secara biologis, melainkan sebuah peradaban atau sistem masyarakat juga memiliki umur sosialnya sendiri. Ketika sebuah masyarakat secara kolektif menimbun kezaliman dan merusak moralitas, maka struktur sosial mereka secara matematis sedang bergerak menuju kehancuran sejarahnya.
          Di sisi lain, Ayatullah Makarem Shirazi dalam Tafsir Al-Amtsal menekankan bahwa keberadaan Kitab Ma'lum adalah manifestasi keadilan dan kasih sayang Allah. Dia memberikan masa penangguhan (respite) agar manusia memiliki ruang terakhir untuk mengevaluasi diri dan bertobat sebelum hukum kausalitas bekerja membinasakan mereka.
          Melengkapi premis tersebut, Sayyid Kamal Al-Haydari membagi ajal ke dalam dua hierarki metafisik. Pilihan moral manusia di dunia pada mulanya memengaruhi catatan takdir yang bersifat dinamis (Ajal Muallaq). Namun, ketika ambang batas kejahatan telah terlampaui tanpa adanya rekonsiliasi spiritual, takdir kondisional tersebut akan dikunci menjadi takdir kehancuran yang absolut (Ajal Musamma) di dalam Ummul Kitab. Ketika pelatuk ajal takwini itu ditarik dan jam pasir kehidupan menyentuh angka nol, ketetapan Allah akan langsung mengeksekusi ruang eksistensi manusia tanpa ada ruang negosiasi. Ia tidak dapat dipercepat karena ketidaksabaran, dan tidak dapat ditunda sedetik pun meskipun manusia meratap memohon penangguhan.
 
Epilog: Membaca Jam Pasir Diri
          Lima ayat pertama Surah Al-Hijr ini bertindak sebagai cermin filosofis yang sangat jernih bagi kehidupan manusia. Kelimpahan materi, aktualitas diri, dan kesehatan yang dinikmati manusia hari ini sering kali bukanlah indikator kemuliaan, melainkan sebuah masa penangguhan sebelum garis batas waktu itu tiba.
          Sebagai kesimpulan yang mengunci seluruh trilogi eksistensi ini, wasiat dari Amirul Mukminin, Imam Ali bin Abi Thalib \alpha, merangkum secara utuh bahaya dari tirai ilusi yang menutupi mata hati manusia:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ اثْنَتَانِ: اتِّبَاعُ الْهَوَى وَطُولُ الْأَمَلِ، فَأَمَّا اتِّبَاعُ الْهَوَى فَيَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ، وَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ فَيُنْسِي الْآخِرَةَ
“Sesungguhnya hal yang paling aku takuti menimpa kalian ada dua perkara: mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Adapun mengikuti hawa nafsu, ia akan memalingkan kalian dari kebenaran. Sedangkan panjang angan-angan, ia akan membuat kalian melupakan akhirat.”
 
Waktu eksistensi di dunia terlalu singkat untuk dihabiskan dalam kepalsuan angan-angan. Pilihan kini sepenuhnya berada pada kesadaran masing-masing subjek: apakah manusia akan melangkah dengan menjadikan Al-Qur'an sebagai kompas penuntun jalannya, atau memilih tetap terbius oleh angan-angan sebagai tirai yang melalaikan, sampai akhirnya ia dibangunkan secara paksa oleh datangnya ajal sebagai kepastian dalam ruang penyesalan yang telah kehilangan aktualitasnya.
Tabik

Minggu, 07 Juni 2026

PAC Pergunu Bojonggede Jalin Silaturahim ke Pesantren Al Fiqoriyah, Bahas Penguatan Organisasi dan Pemanfaatan AI untuk Guru

Kompassantri-online, Bojonggede – Pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Kecamatan Bojonggede melaksanakan silaturahim ke Pesantren Al Fiqoriyah, Bojonggede, pada Ahad (7/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antara Pergunu dengan para tokoh pendidikan dan pesantren di wilayah Bojonggede.

Rombongan PAC Pergunu Bojonggede dipimpin langsung oleh Ketua PAC Pergunu Bojonggede, Suhendar, M.Ag., didampingi Wakil Ketua M. Miratul Hayat, Sekretaris M. Mustaqim, S.H., Wakil Sekretaris Siti Aulia Rahma, S.Pd., serta Koordinator Departemen Peningkatan Kompetensi Guru Reza Ahmad Wildan dan bidang digital kang M. Aditia Badrun Dohar. Kehadiran mereka disambut hangat oleh pengasuh Pesantren Al Fiqoriyah, Ustadz Kholil.

Dalam pertemuan yang berlangsung penuh keakraban tersebut, pengurus PAC Pergunu Bojonggede memperkenalkan keberadaan organisasi Pergunu di tingkat kecamatan sekaligus menyampaikan maksud silaturahim sebagai bagian dari penguatan jaringan dan konsolidasi organisasi.

Ketua PAC Pergunu Bojonggede, Suhendar, menjelaskan bahwa Pergunu hadir sebagai wadah perjuangan para guru Nahdlatul Ulama untuk meningkatkan kualitas pendidikan, profesionalisme guru, serta memperkuat peran guru dalam membangun masyarakat yang berkarakter dan berakhlakul karimah.

Selain memperkenalkan organisasi, pengurus juga menyampaikan harapan agar Ustadz Kholil dapat menjadi bagian dari struktur PAC Pergunu Bojonggede sebagai penasihat. Kehadiran tokoh pesantren dinilai penting untuk memberikan arahan, masukan, serta penguatan nilai-nilai ke-NU-an dalam setiap langkah organisasi.

Dalam kesempatan tersebut, berbagai gagasan terkait pengembangan organisasi turut dibahas. Salah satu fokus yang menjadi perhatian adalah pentingnya membangun branding Pergunu Bojonggede agar semakin dikenal oleh para guru, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas. Branding organisasi dipandang sebagai langkah strategis untuk memperluas manfaat dan meningkatkan partisipasi guru dalam berbagai program Pergunu.

Selain itu, pengurus juga memaparkan rencana pengembangan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk mendukung tugas-tugas guru. Teknologi AI diharapkan dapat membantu mempermudah berbagai pekerjaan administrasi sekolah, penyusunan perangkat pembelajaran, pembuatan instrumen evaluasi, hingga pengembangan media pembelajaran yang lebih efektif dan efisien.

“Pemanfaatan AI menjadi salah satu perhatian kami ke depan. Teknologi ini bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi membantu guru agar lebih fokus pada proses pembelajaran dan penguatan karakter peserta didik,” ujar salah satu pengurus dalam diskusi tersebut.

Ustadz Kholil menyambut baik silaturahim yang dilakukan oleh PAC Pergunu Bojonggede. Ia mengapresiasi semangat para pengurus dalam membangun organisasi guru yang berorientasi pada peningkatan kualitas pendidikan serta mendorong lahirnya program-program yang bermanfaat bagi para pendidik dan masyarakat.

Pertemuan ditutup dengan komitmen untuk terus menjalin komunikasi dan kolaborasi antara Pergunu Bojonggede dengan pesantren serta berbagai elemen pendidikan lainnya guna mewujudkan pendidikan yang maju, berkualitas, dan berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.

Kontributor: Abdul Hakim