Senin, 02 November 2026

Menakar Proporsionalitas Penggeledahan Kasus Warung Mie Babi Sukoharjo dalam Perspektif Bahagia Hari Santri Nasional ke-12 yang Belum Usai di Oktober 2026

*2 ANGGOTA BRIMOB TERLUKA DAN 19 SAKSI TRAUMATIS DI PESANTREN*
_Menakar Proporsionalitas Penggeledahan Kasus Warung Mie Babi Sukoharjo dalam Perspektif Bahagia Hari Santri Nasional ke-12 yang Belum Usai di Oktober 2026_

*Oleh: Uung Ibnu Shobari (UIS)*

_✓ Santri Kampung di Kampung Santri Madeenah Indonesia (KAMPUS DEENA)_

_✓ Sekjen FSPP Kabupaten Pandeglang_

_✓ Anggota Pengurus ICMI ORWIL BANTEN, Bidang Kepesantrenan_
 
_✓ Founder & Presiden Komunitas Pecinta Pesantren (KEREN)_

Belum selesai euphoria Hari Santri Nasional ke-12 pada 22 Oktober 2026. Spanduk ucapan terima kasih kepada santri sebagian masih terpampang seantero Bumi Pertiwi. Namun di penghujung Oktober yang sama, Sukoharjo justru menyisakan dua luka yang bertolak belakang: 2 (dua) anggota Brimob terluka karena melawan pelaku pembakaran, dan 19 perempuan serta anak dari sebuah asrama tahfiz di Laban, Mojolaban mengalami trauma karena penggeledahan.

Kasus ini berawal dari pembakaran dan perusakan Warung Mie dan Babi Tepi Sawah di Desa Parangjoro, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, pada 12 September 2026 dini hari. Warung milik Jodi Sutanto itu didatangi empat orang bermotor berpenutup wajah. Dua karyawan ditodong senjata tajam, lalu gudang disiram bensin dan dibakar.

Penyelidikan melibatkan Bidlabfor Polda Jateng, Jatanras, dan Densus 88. Pada 19 Oktober 2026 malam, tersangka ST alias AS ditangkap di kontrakan Purbayan, Baki. ST melawan dengan samurai hingga dua anggota Brimob terluka. Kapolda Jateng Irjen Roy Hardi Siahaan pada 30 Oktober menegaskan ST adalah eks napiter kasus Polsek Pasar Kliwon 2015.

Dari ST, mengembang ke DPO I yang ditetapkan 24 Oktober 2026. I juga eks napiter. Berdasarkan keterangan pendamping Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Sukoharjo, Endro Sudarsono (Juga Humas SDKS, red.), kepada awak media di Mapolres Sukoharjo pada 31 Oktober 2026, bahwa inisial " I " adalah salah satu pengurus lembaga tersebut.

Untuk memburu I, pada 27 Oktober 2026 pukul 03.20 WIB, tim gabungan dengan izin penetapan pengadilan menggeledah dua lokasi yang mengatasnamakan RTQ / Hamalatul Qur'an di Laban, Mojolaban, Sukoharjo dan di Trengguli, Jenawi, Karanganyar. Hasilnya nihil. DPO tidak ditemukan. Yang ditemukan samurai, pedang, celurit, busur panah, cairan asam, dan literatur. Yang tertinggal trauma pada 12 santriwati usia 10-16 tahun, 4 ustazah, dan 2 balita yang berstatus saksi dari hasil analisis data sumber literatur di media sosial, media online dan video pernyataan yang tersebar luas.

Kapolres Sukoharjo AKBP Andika Dharma Sena pada 31 Oktober menegaskan ada empat pelaku. Satu ditahan, satu DPO, dua masih dalam penyelidikan intensif. Dua pelaku misterius itu yang membuat publik bertanya: apakah deradikalisasi di Solo Raya jebol?

Sebagai Founder sekaligus Presiden Komunitas Pecinta Pesantren (KEREN, red.) dan juga Sekjen FSPP Pandeglang tidak bisa juga berdiam diri, setidaknya untuk menjaga akuntabilitas, saya kutip utuh pernyataan sikap salah satu organisasi induk kami, *Forum Silaturahim Pondok Pesantren (FSPP) Provinsi Banten* yang diterbitkan resmi di Banten, *20 Jumadil Ula 1448 H / 30 Oktober 2026 M*, dengan tema besar: *"Melindungi Santri, Menegakkan Hukum, Menjaga Marwah Pesantren"*.

Pernyataan sikap yang ditandatangani *Dewan Presidium: Ketua Dr. KH. Fadlullah, M.Si., yang beranggotakan, Drs. KH. Sulaeman Ma'ruf, Dr. KH. Fathurrohman, S.Pd.I., M.Si., Dr. KH. Sulaiman Effendi, M.Pd.I., dan Assoc. Prof. Dr. KH. Soleh Rosyad, MM.* ini menyampaikan keprihatinan serius atas peristiwa pembakaran Warung Mie dan Babi Tepi Sawah dan penggeledahan di lingkungan pesantren. Isinya 6 poin tegas, yang saya jadikan pijakan analisis:

*Poin 1. Menghormati aspirasi masyarakat terhadap produk halal.* Aspirasi masyarakat untuk mengutamakan produk halal adalah bagian dari kesadaran masyarakat sekaligus sejalan dengan upaya pemerintah mengembangkan ekosistem halal nasional.

*Poin 2. Menolak segala bentuk kekerasan dan mendukung penegakan hukum.* FSPP mendukung kepolisian mengusut tuntas tindakan pembakaran dan perusakan berdasarkan bukti di tempat kejadian perkara. Penegakan hukum harus dilakukan secara profesional, transparan, dan adil.

*Poin 3. Mendesak negara memberikan perlindungan kepada santri.* Meminta Kementerian Agama, khususnya Direktorat Jenderal Pesantren, hadir aktif memastikan perlindungan, pendampingan, keamanan, dan keberlangsungan pendidikan santri, terutama santri perempuan dan anak-anak.

*Poin 4. Meminta transparansi dan pemeriksaan atas dugaan pelanggaran prosedur.* Kepolisian harus menjelaskan secara terbuka dan proporsional pelaksanaan penggeledahan, termasuk berbagai keterangan mengenai cara aparat memasuki lokasi dan perlakuan terhadap penghuni pesantren. Dugaan pelanggaran prosedur harus diklarifikasi dan diperiksa secara objektif.

*Poin 5. Menolak stigma dan kriminalisasi kolektif terhadap pesantren.* Perbuatan individu tidak boleh digeneralisasi menjadi kesalahan lembaga atau komunitas pesantren. Proses hukum yang adil harus membuktikan secara individual.

*Poin 6. Mendorong kemitraan kepolisian dengan kiai dan pimpinan pesantren.* FSPP mendorong kemitraan yang kuat dalam deteksi dini, pencegahan konflik, mediasi, serta penyelesaian persoalan sosial melalui dialog dan pendekatan kultural.

FSPP Banten menutup pernyataan itu dengan kalimat emas yang menjadi ruh tulisan Uung Ibnu Shobari, yakni :

*"Penegakan hukum harus menghadirkan keadilan, bukan ketakutan. Melindungi santri, menegakkan hukum, dan menjaga marwah pesantren adalah tanggung jawab bersama."*

Enam poin inilah yang saya pakai untuk menguji proporsionalitas dengan tiga tolok ukur ala UIS.

*Pertama, necessity / seberapa gentingnya. Apakah harus jam 03.20?*

Secara taktis polisi benar, SOP DPO berbahaya. Tetapi secara empiris, objeknya asrama putri. Anak 10-16 tahun yang baru selesai menghafal Qur'an adalah saksi. Jika target satu laki-laki dewasa, apakah tidak bisa pemantauan siang, pemanggilan pengurus, atau penggeledahan selektif ruang pengurus saja? Kebutuhan menangkap DPO itu nyata, kebutuhan melindungi tidur anak itu juga nyata. Ini sejalan dengan Poin 4 FSPP Banten tentang transparansi proporsionalitas.

*Kedua, proportionality / keseimbangan tolak ukur hukum dan bukti. Apakah kekuatannya seimbang?*

Kekuatan Brimob laras panjang seimbang untuk eks napiter bersamurai yang melukai dua anggota. Tetapi tidak seimbang untuk santriwati yang terbangun kaget, belum berjilbab, tidak bersenjata. Fakta bahwa 17 HP, 3 motor, CPU, safety box santriwati sempat disita dan baru dikembalikan 31 Oktober menunjukkan audit diperlukan. Ini yang diminta Poin 4 dan Poin 3: perlakuan objektif dan perlindungan anak.

*Ketiga, humanity / unsur keharmonisan berkemanusiaan dan nilai-nilai. Apakah martabat anak terjaga?*

Wagub Taj Yasin menegaskan lokasi Laban tidak terdaftar di Kemenag dan tidak terkait Hamalatul Qur'an pusat di Jombang. Artinya, anak-anak di Laban korban penyalahgunaan nama pesantren oleh pengurus yang ternyata DPO. Mereka harus dilindungi, bukan ditakuti. Sesuai Poin 5, perbuatan individu tidak boleh menjadi stigma kolektif pesantren.

Hari Santri ke-12 mengajarkan santri adalah *penjaga negeri.* Jika pada 22 Oktober kita mengelu-elukan santri, jangan malah pada 27 Oktober kita membuat santriwati trauma dan jiwanya terluka.

Maka, sekajatinya Kolumnis UIS lentik jemari ini bergetar saat harus menuliskan semua ini, disamping selaku Sekjen FSPP Kota Santri Pandeglang dan Waka Panpel HSN ke-12, mendorong tiga hal sejalan dengan sikap FSPP Banten: _Pertama,_ transparansi nasib dua pelaku lain dari empat pelaku agar publik tahu apakah ini jaringan. _Kedua,_ audit Propam terbuka dengan tolok ukur _necessity, proportionality, humanity._ _Ketiga,_ pendampingan psikologis tuntas bagi 19 anak kita agar bisa kembali menghafal Qur'an dengan tenang.

Mereka, baik Brimob yang terluka maupun santriwati yang trauma, adalah anak-anak bangsa yang wajib dilindungi hukum. Termasuk entitas kelembagaan RTQ yang berbasis Pondok Pesantren menjadi catatan penting di penghujung 2026 ini sebagai tolak ukur hadirnya Dirjen Pesantren di Kementrian Agama RI dan semua kalangan untuk melalukan sesuai tupoksnya dalam melakukan _social controling_ secara utuh memahami rentetan kerapihan UU Pesantren, PMA 30, 31, 32 tahun 2020 serta PP 82 tahun 2021 yang semua hal tersebut menjadi regulasi legal di Bumi Pertiwi Loh Jinawi ini.

Sambil menikmati suasana pagi di Kampung Santri Cijantung, Bojong, Pandeglang, Banten yang 3 hari terakhir ini Allah berikan Rahmat-Nya dengan mulainya guyuran hujan, padahal 4 (empat) bulan terakhir ini ratusan warga antri menikmati jariyah air bersih dari salah satu titipan donor di Kampus Madeenah Indonesia Cijantung yang alhamdulillah setiap pagi hari hingga malam keberkahan air moncer tanpa habis-habisnya, maasyaa Allah.

Sisi lain, dikagetkan dengan kejadian di Sukoharjo yang menyita perhatian semua kalangan khususnya para Pecinta Pesantren. Wallaahu A'lamu Bisshowwab, Wahdinasshiraathol Mustaqeem._(oenkmms4826)

Kamis, 29 Oktober 2026

Rangkul 300 Suporter, Kapolres Metro Tangerang Kota Ajak Jaga Kota Tangerang Tetap Kondusif

Kompassantri-online, TANGERANG — Sekitar 300 suporter sepak bola dari berbagai kelompok berkumpul di Stadion Nambo, Karawaci, Kota Tangerang, Rabu (28/10/2026) malam. Bukan untuk saling beradu rivalitas, mereka justru dipertemukan dalam kegiatan silaturahmi dan mini turnamen yang digelar Polres Metro Tangerang Kota.

Kegiatan tersebut dipimpin Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol. Herbin Garbawiyata J. Sianipar. Sejumlah kelompok suporter hadir, mulai dari pendukung Persita Tangerang, Persikota Tangerang, Arema Malang, PSIM Yogyakarta, Persib Bandung, hingga Madura United.

Pertemuan ini menjadi upaya kepolisian membangun komunikasi dengan komunitas suporter sekaligus menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) tetap kondusif.

Dalam arahannya, Herbin mengapresiasi kehadiran para suporter dan mengajak seluruh kelompok menjaga hubungan baik, meski mendukung klub yang berbeda.

"Sepak bola seharusnya menjadi sarana mempererat persaudaraan, bukan menjadi alasan untuk bermusuhan. Kami mengajak seluruh suporter menjaga komunikasi, menghormati perbedaan dukungan, dan bersama-sama menciptakan suasana yang aman serta kondusif di Kota Tangerang," ujar Herbin.

Kapolres juga mengingatkan para suporter agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum jelas kebenarannya. Ia meminta seluruh kelompok menghindari tindakan yang berpotensi memicu konflik, termasuk konvoi maupun pergerakan massa yang dapat mengganggu ketertiban umum.

Herbin turut mengimbau para suporter agar menyampaikan aspirasi melalui komunikasi dan jalur yang tertib, tanpa melakukan tindakan yang membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

"Kami berharap teman-teman suporter menjadi pelopor keamanan dan keselamatan. Jangan mudah terpancing hoaks atau ajakan yang bisa memicu keributan. Tunjukkan kecintaan terhadap klub dengan cara yang positif, kreatif, dan tetap menjunjung sportivitas," tegasnya.

Setelah penyampaian arahan dan foto bersama, kegiatan dilanjutkan dengan simbolis sepak mula oleh Kapolres. Para suporter kemudian mengikuti pertandingan antarkelompok yang berlangsung sejak malam hingga penentuan juara.

Enam tim yang bertanding berasal dari kelompok suporter Persikota, PSIM, Arema, Madura United, Persita, dan Persib. Pertandingan berlangsung dengan semangat kompetisi dan sportivitas.

Dalam hasil akhir turnamen, suporter Persib Bandung meraih juara pertama, sedangkan suporter Persita Tangerang menempati posisi kedua. Panitia kemudian menyerahkan piala, penghargaan pencetak gol terbanyak, serta uang pembinaan.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kasat Binmas AKBP Dr. Muhammad Nasir, Kasat Samapta AKBP Ubaidillah, Kasat Intelkam Kompol Dr. Dodi Abdulrohim, Kapolsek Karawaci Kompol Anggoro Winardi, serta jajaran pejabat Polres Metro Tangerang Kota lainnya.

Melalui kegiatan ini, Polres Metro Tangerang Kota berharap rivalitas dalam sepak bola tetap berada di lapangan dan tidak berkembang menjadi perselisihan di luar pertandingan.

Kapolres juga mengajak seluruh suporter menjaga nama baik Kota Tangerang dengan mengedepankan persaudaraan, menghormati kelompok lain, dan segera menyelesaikan persoalan melalui dialog apabila muncul perbedaan.

Rabu, 28 Oktober 2026

Sambut Hari Pangan Sedunia, InJourney Hospitality Perkuat kekayaan Nusantara

Kompassantri, JAKARTA, OKTOBER 2026 –* Dalam rangka memperingati *Hari Pangan Sedunia (World Food Day),* PT Hotel Indonesia Natour (Persero) atau InJourney Hospitality memperkuat komitmennya dalam mengangkat kekayaan kuliner Nusantara sebagai bagian dari pengembangan pengalaman perhotelan yang berkualitas dan bernilai tambah. Melalui tiga unit hotel, yakni *Inna Tretes Hotel & Resort, Truntum Kuta, dan Anara Airport Hotel Jakarta,* InJourney Hospitality menghadirkan beragam sajian khas Indonesia serta penawaran kuliner spesial yang merepresentasikan keragaman cita rasa dan kekayaan pangan lokal.

Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya InJourney Hospitality dalam mengintegrasikan kekuatan layanan perhotelan dengan pelestarian kekayaan kuliner Indonesia. Melalui pengembangan menu berbasis cita rasa lokal, perusahaan tidak hanya menghadirkan pengalaman bersantap yang berkesan bagi pelanggan, tetapi juga memperkuat daya tarik kuliner sebagai salah satu elemen penting dalam ekosistem pariwisata nasional.

*Direktur Utama PT Hotel Indonesia Natour (Persero), Christine Hutabarat,* _menyampaikan bahwa kekayaan pangan dan kuliner Nusantara merupakan aset strategis yang memiliki potensi besar untuk memperkuat identitas pariwisata Indonesia sekaligus meningkatkan nilai tambah layanan perhotelan._

“Kuliner Nusantara bukan sekadar bagian dari layanan perhotelan, melainkan representasi kekayaan budaya, kearifan lokal, dan potensi ekonomi Indonesia. Melalui pengembangan sajian berbasis pangan lokal, kami ingin menghadirkan pengalaman yang autentik bagi pelanggan sekaligus memperkuat posisi industri perhotelan sebagai bagian dari ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Upaya ini sejalan dengan komitmen perusahaan untuk terus menciptakan nilai tambah melalui inovasi layanan dan optimalisasi potensi setiap unit hotel,” ujar Christine Hutabarat.

Dalam momentum Hari Pangan Sedunia, tiga unit hotel InJourney Hospitality menghadirkan pilihan kuliner dengan karakter dan keunggulan masing-masing.

*Inna Tretes Hotel & Resort, Jawa Timur,* menghadirkan Nasi Timbel Khas Jawa Timur dengan tema “Pangan Berkualitas, Masa Depan yang Lebih Baik”. Sajian ini memadukan nasi hangat yang dibungkus daun pisang dengan aneka lauk khas, sayur asam, lalapan segar, dan sambal. Mengutamakan bahan-bahan segar pilihan, hidangan ini ditawarkan dengan harga Rp45.000 net per porsi sebagai bentuk apresiasi terhadap cita rasa tradisional yang dekat dengan keseharian masyarakat.

Sementara itu, *Truntum Kuta Bali,* menghadirkan pengalaman bersantap dalam suasana tropis melalui Lunch Pool Package. Menu Nasi Goreng khas Truntum Kuta disajikan bersama sate ayam, kerupuk, telur, dan hidangan pendamping lainnya. Khusus pada 16 Oktober 2026, tamu dapat menikmati potongan harga sebesar 10% dari harga normal Rp150.000 net per orang. Penawaran ini memadukan kekayaan kuliner Indonesia dengan suasana rekreasi yang menjadi daya tarik destinasi Bali.

Adapun *Anara Airport Hotel Jakarta* melalui Selasih Restaurant menyuguhkan Laksa Tangerang, kreasi Chef de Partie Martin Sagita yang menonjolkan kekayaan rempah dan karakter kuliner lokal. Hidangan ini memadukan kuah santan berbumbu gurih, potongan daging ayam, tauge segar, serta rempah-rempah khas. Untuk menyemarakkan Hari Pangan Sedunia, Selasih Restaurant menghadirkan promo Buy 1 Get 1 Free yang berlaku pada waktu makan siang tanggal 16 Oktober 2026.

Keberagaman sajian tersebut mencerminkan pendekatan InJourney Hospitality dalam mengembangkan keunggulan produk dan layanan dengan mengedepankan identitas lokal. Setiap unit hotel memiliki peluang untuk mengangkat karakter kuliner daerahnya masing-masing, sehingga pengalaman menginap dan bersantap menjadi bagian dari perjalanan wisata yang lebih kaya, autentik, dan berkesan.

Melalui momentum *Hari Pangan Sedunia,* InJourney Hospitality berharap dapat meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap pangan dan kuliner Nusantara, sekaligus mendorong penguatan daya saing industri perhotelan melalui inovasi produk yang berakar pada kekayaan lokal. Langkah ini juga menjadi bagian dari kontribusi perusahaan dalam mendukung pengembangan pariwisata berkualitas, pelestarian warisan kuliner Indonesia, serta penciptaan nilai berkelanjutan bagi ekosistem pariwisata nasional.

SUMPAH PEMUDA ALA-ALA GENMIL, GENZET & GENPHA| KI UUNG

Menjujut Tiga Generasi Kepemudaan Berdasarkan Norma-norma Kehidupan Nyata dan Maya_

*Oleh: UIS (Uung Ibnu Shobari)*

_1. Santri Kampung, Pendiri Kampung Santri Madeenah Indonesia_

_2. Inisiator LENTERA INDONESIA (Literasi, Ensiklopedia, Teknologi Rumusan AI)_


Kalau kita bicara pemuda, jangan dibayangkan sekadar usia. Pemuda itu soal ruh. Soal keberanian mengambil sikap ketika yang lain masih ragu-ragu.

*Versi Pemuda Ala Santri, Kyai dan Ulama*

Di pesantren, pemuda tidak diukur dari berapa follower-nya, tapi dari seberapa kuat khidmah-nya. Santri diajarkan: _syubbanul yaum rijalul ghad._ Pemuda hari ini adalah pemimpin esok hari. Tapi syaratnya bukan pintar saja, harus punya adab.

Kyai saya dulu bilang, pemuda itu ada tiga cirinya ala santri. Pertama, _himmah aliyah,_ cita-citanya tinggi tapi kakinya tetap membumi. Kedua, _jiddiyah,_ serius, tidak main-main dengan waktu. Ketiga, _wira'i,_ menjaga diri dari yang syubhat. Itu yang hilang di banyak anak muda sekarang.

Ulama kita tidak pernah mendidik pemuda untuk menjadi pembenci. Ulama mendidik pemuda untuk menjadi penjaga. Menjaga agama, menjaga bangsa, menjaga akhlak. Makanya santri ketika disuruh maju, dia maju dengan doa. Ketika disuruh mundur, dia mundur dengan adab. Bukan maju karena viral, mundur karena di-bully netizen. Lebih-lebih kentara saat dikotomikan genmil, genzet dan genfa _(milenia, zet dan alpha, red.)_

Di sinilah bedanya pemuda ala santri dengan pemuda ala tongkrongan. Santri itu kalau bersumpah, sumpahnya diikat dengan Allah. Bukan sekadar konten.

*Catatan Penting Pemuda Berdasarkan Pandangan Zu'ama dan Cendekia*

Zu'ama, para pemimpin, dan cendekiawan kita sepakat: pemuda adalah agen perubahan, bukan agen keributan. Bung Karno pernah berteriak, " beri aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncang dunia." Tapi para cendekia muslim menambahkan: " beri aku sepuluh pemuda yang hafal Al-Quran dan paham teknologi, maka dunia akan tunduk dengan akhlak."

Cak Nur, Nurcholish Madjid, bilang pemuda itu harus _autentik._ Jangan jadi pengekor Barat, jangan juga jadi pengumpat Timur. Pramoedya bilang pemuda harus menulis sejarahnya sendiri. Sementara KH. Hasyim Asy'ari menuturkan pemuda harus cinta tanah air, " hubbul wathan minal iman." Nasionalisme santri itu bukan nasionalisme kosong, tapi nasionalisme yang disambung dengan iman. Alhamdulillah, sangat mengena.

Maka kalau hari ini banyak pemuda yang bingung identitasnya, itu karena ia kehilangan sanad keilmuan dan sanad kebangsaan. Ia tidak tahu harus merujuk kemana. Akhirnya ia merujuk pada algoritma medsos yang belum kenal rasa dan bumbunya, walau kadang telah membius perlakuannya yang kurang filter.

*Napak Tilas Histori Sumpah Pemuda 28 Oktober*

Mari kita tarik lagi ke belakang. Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Bukan sekadar rapat. Itu ijtihad kebangsaan. Pemuda dari _Jong Java, Jong Ambon, Jong Celebes, Jong Batak, Pemuda Kaum Betawi,_ semua melebur. Di rumah Sie Kong Liong, Jalan Kramat 106, Jakarta. Mereka bersumpah: " Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa, Indonesia. "

Ingat, saat itu belum ada Indonesia sebagai negara. Yang ada adalah tekad. Para pemuda itu tidak punya Instagram, tidak punya dana APBN, bahkan banyak yang masih ngontrak di kos-kosan. Tapi mereka punya satu yang hari ini langka: keberanian untuk sepakat. Mereka tidak ribut soal khilafiyah. Mereka sepakat pada hal yang fundamental.

Itulah mengapa Sumpah Pemuda itu dahsyat. Ia mendahului kemerdekaan 17 Agustus 45. Tanpa sumpah itu, mungkin tidak ada proklamasi kemerdekaan yang diproklamirkan di Pegangsaan Timur Nomor 56.

*Bagaimana Pemuda Genmil yang Kini Dalam Kebutaan Generasi dan Kedaulatan Nilai-Nilai?*

Nah, ini yang UIS (Uung Ibnu Shobari) resah. Gen Milenial, atau GenMil, lahir 1981-1996. Mereka generasi transisi. Generasi yang merasakan perangko dan juga merasakan e-mail. Mereka seharusnya menjadi jembatan. Tapi banyak yang terjebak.

Saya sebut ini kebutaan generasi. Secara teknologi mereka melek, tapi secara nilai mereka buta. Buta arah. Mereka tahu cara membuat startup, tapi tidak tahu cara memulai shalat tepat waktu. Mereka jago personal branding, tapi gagap ketika disuruh berkhidmah sosial.

Kedaulatan nilai kita sedang dijajah. Dulu penjajah datang dengan meriam. Sekarang penjajah datang dengan tren. Dengan istilah self-love yang kebablasan, healing yang tidak sembuh-sembuh, dan flexing yang tidak ada ujungnya. Pemuda Milenial banyak yang sudah lelah sebelum berjuang. _Burnout_ padahal belum terbakar apa-apa. 

Padahal milenial itu harusnya tangguh. Harusnya jadi komandan bagi adik-adiknya Gen Z dan Gen Alpha.

*Bagaimana Pemuda Generasi Zet dan Alpha Memahami Sumpah Pemuda*

Gen Z lahir 1997-2012. Gen Alpha lahir 2013 ke atas. Mereka ini penduduk asli dunia maya. Digital native. Sumpah bagi mereka bukan diucapkan di gedung, tapi di kolom komentar.

Gen Zet, begitu UIS menyebutnya, punya kelebihan luar biasa: _kritis, kreatif dan cepat belajar._ Tapi kelemahannya: _mudah cemas, mudah membandingkan diri, dan cepat menyerah._ Sumpah Pemuda bagi Gen Z harus diterjemahkan: Satu Nusa berarti jangan mudah terprovokasi isu SARA di media sosial. Satu Bangsa berarti kolaborasi, bukan saling cancel. Satu Bahasa berarti gunakan bahasa Indonesia dengan literasi, bukan dengan bahasa gado-gado yang merusak.

GenPha, Gen Alpha, lebih unik lagi. Mereka lahir ketika AI sudah ada. Mereka akan hidup bersama robot. Tantangan mereka bukan lagi soal akses informasi, tapi soal memfilter informasi. Maka Sumpah Pemuda bagi mereka adalah sumpah untuk tetap menjadi manusia. Tetap punya hati di tengah kecerdasan buatan. Tetap bisa membaca Al-Quran, bukan hanya membaca caption yang menyita banyak hal. Pada kenyataannya kini ada paradok antara _Genmil, Genzet dan Genpha_ yang kini mulai sulit untuk membedakannya.

Kalau GenMil menjahit, GenZet mengikat, maka GenPha harus menjaga jahitannya agar tidak lepas.

*Achievement Para Pemuda Ala Rasulullah dan Para Sahabat*

Ini yang paling penting. Jangan kita lupa, Islam dibangun oleh pemuda.

Rasulullah SAW diangkat menjadi Rasul usia 40 tahun, tapi pembela pertamanya adalah pemuda: _Ali bin Abi Thalib, masuk Islam usia sekitar 10 tahun. Mus'ab bin Umair, duta pertama Islam di Madinah, usia 20-an, tampan, kaya, tapi rela miskin demi dakwah. Zaid bin Tsabit, usia belasan tahun, menjadi penulis wahyu dan penerjemah. Usamah bin Zaid, usia 18 tahun sudah menjadi panglima perang memimpin pasukan yang di dalamnya ada Abu Bakar dan Umar._ Allahu Akbar, merinding saat menulis berdasarkan *literasi, ensiklopedia dan teknologi rumusan AI (LENTERA INDONESIA)* menyentuh dunia nyata dan negeri maya yang berada di lentik jemari kita semua para Pemuda.

Apa kuncinya para Sahabat Rasulullah? Mereka tidak menunda. Tidak menunggu tua untuk beramal. Tidak menunggu kaya untuk bersedekah. Tidak menunggu viral untuk berjuang. Pemuda ala Rasulullah itu cirinya: _imannya tebal, ilmunya dalam, dan keberaniannya tidak dibuat-buat._

Maka kalau kita ingin mencetak pemuda hebat, jangan hanya diberi pelatihan motivasi. Beri dia sanad. Beri dia masjid. Beri dia guru yang benar.

*Sumber Literatur Tentang Kepemudaan di Indonesia*

Untuk adik-adik yang mau mendalami, jangan hanya baca _thread._ Baca buku. Literatur kepemudaan kita kaya sekali !!.

_Pertama,_ naskah otentik Sumpah Pemuda 1928 dan tulisan Mohammad Yamin tentang ikrar tersebut. _Kedua,_ buku Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, untuk melihat gejolak pemuda idealis. _Ketiga,_ buku Ahmad Syafii Maarif tentang Islam dan keindonesiaan. _Keempat,_ karya Yudi Latif, Negara Paripurna, tentang asal-usul bangsa. _Kelima,_ manuskrip Babad Banten dan Sejarah Banten yang ditulis Abah Adung Abdul Haris, karena di sana ada jejak pemuda Banten yang melawan kolonial. _Keenam,_ literatur pesantren seperti Adabul 'Alim wal Muta'allim-nya KH. Hasyim Asy'ari, tentang adab pemuda pencari ilmu.

Dari pelbagai literatur tersebut kita tahu, pemuda Indonesia tidak pernah miskin gagasan, hanya kadang miskin keberanian untuk mengeksekusi gagasan.

*Asumsi Usia Pemuda Menurut Organisasi Dunia dan Ekspektasi Indonesia Emas 2045*

Secara definisi, PBB atau UN menyebutkan pemuda adalah usia 15-24 tahun. WHO menyebut 10-24 tahun sebagai remaja dan pemuda. ASEAN Youth: 15-35 tahun. Sedangkan Undang-Undang Kepemudaan Indonesia No. 40 Tahun 2009 menyebut pemuda adalah warga negara usia 16-30 tahun.

Artinya apa? Bonus demografi kita sedang di puncak. Tahun 2030-2045, 70% penduduk Indonesia adalah usia produktif. Inilah modal Indonesia Emas 2045, 100 tahun Indonesia merdeka.

Tapi emas tidak akan jadi emas kalau tidak ditempa. Pemuda harus ditempa. Kalau GenMil, GenZet, GenPha tidak kompak, tidak menjujut, tidak bersatu dalam norma nyata dan maya, maka Indonesia Emas hanya akan menjadi Indonesia dala kecemasan. jangan sampai itu terjadi, karena akan sirna dan sia-sia apa yang telah disumpahkan dalam format Sumpah Pemuda.

Ekspektasi UIS sebagai kolumnis, bahwa tahun 2045, pemuda kita bukan hanya jadi penonton di negeri sendiri. Ia harus jadi tuan rumah yang beradab, yang menguasai teknologi tapi tidak kehilangan tahleel, yang menguasai pasar global tapi tidak kehilangan pasar akhlak.

Akhir kata, Sumpah Pemuda bukan untuk dikenang setahun sekali. Ia untuk dijalani setiap hari. Di dunia nyata kita bersalaman, di dunia maya kita saling menjaga lisan. Kita jahit kembali persatuan itu dengan _keikhlasan, ketulusan, dan keberanian._ Insya Allah, dengan begitu, Indonesia tidak hanya emas secara ekonomi, tapi emas juga akhlaknya dan jiwanya untuk selama-lamanya. _(oenkmms4826)._