Sabtu, 04 Juli 2026

Pergunu Bogor Utara Perkuat Ekosistem Pendidikan, Hadirkan Guru Penggerak Hati untuk Mencetak Generasi Berkarakter

Bogor – Pengurus Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PC Pergunu) Kabupaten Bogor zona Bogor Utara menggelar Sarasehan Pendidikan dengan menghadirkan para pendidik, pengurus NU, serta praktisi pendidikan dari delapan kecamatan di wilayah Bogor Utara. Kegiatan berlangsung di Aula Sekolah Darunnisa, Desa Pengasinan, Kecamatan Gunungsindur, Kabupaten Bogor, Sabtu (4/7/2026), pukul 08.00–12.00 WIB.

Sarasehan mengangkat semangat peningkatan kualitas guru dan pendidikan melalui dua materi utama, yakni "Menjadi Guru Penggerak Hati" yang disampaikan Ketua STKIP Sinar Cendekia H. Ade Nurhayat, serta "Setiap Anak Istimewa, Seni Menemukan Potensi di Balik Keunikan" yang disampaikan psikolog lulusan Universitas Gadjah Mada, Hj. Rika Hardani.

Kegiatan dihadiri Ketua PC Pergunu Kabupaten Bogor Hj. Lilis Fauziah Balqis, Bendahara PC Pergunu Hj. Ely Nurlaeli, Wakil Sekretaris PC Pergunu Ustadz Abdul Hakim Hasan, tokoh Nahdlatul Ulama Bogor Utara Kiai Ahmad Sya'roni, Ketua Yayasan Ibrahim dan Maryamah H. Rahmat Rasyidin, Ustadzah Desiana, serta para Ketua PAC Pergunu se-Bogor Utara.

Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mars Pergunu. Selain sesi ilmiah, panitia juga menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan gratis, air mineral khusus bagi peserta, serta membagikan paket sembako kepada 30 peserta pertama yang hadir sebagai bentuk apresiasi.

Ketua Panitia, Ahmad Fahmi, yang juga Wakil Ketua PC Pergunu Kabupaten Bogor sekaligus Koordinator Wilayah Bogor Utara, mengajak para guru untuk terus menyadari kemuliaan profesi pendidik.

"Guru bukan sekadar profesi, tetapi amanah yang sangat mulia. Fitrah seorang guru adalah mendidik, membimbing, dan mengantarkan manusia menuju kebaikan. Dalam banyak hal, tugas guru memiliki kemuliaan sebagaimana tugas para nabi, yaitu menyampaikan ilmu dan membimbing umat. Karena itu, setiap langkah, setiap ilmu yang diajarkan, insyaallah menjadi pahala jariyah yang terus mengalir selama ilmu tersebut diamalkan," ujarnya.

Sementara itu, Ketua PC Pergunu Kabupaten Bogor, Hj. Lilis Fauziah Balqis, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya sarasehan yang mempertemukan para pengurus dan praktisi pendidikan dari berbagai wilayah di Bogor Utara.

Menurutnya, keberagaman latar belakang dan keahlian peserta merupakan modal besar dalam membangun pendidikan yang lebih maju dan berkualitas.

"Alhamdulillah, sarasehan ini menjadi ruang silaturahim sekaligus ruang bertukar gagasan bagi para pendidik Nahdlatul Ulama di wilayah Bogor Utara. Saya melihat potensi yang luar biasa dari para guru dan praktisi pendidikan yang hadir hari ini. Masing-masing memiliki kompetensi dan pengalaman yang saling melengkapi. Insyaallah, jika terus disinergikan, potensi ini akan menjadi keberkahan dan membawa kemajuan bagi dunia pendidikan, khususnya di Kabupaten Bogor," tutur Hj. Lilis.

Dalam sesi pertama, H. Ade Nurhayat mengajak para peserta untuk memaknai kembali hakikat seorang guru sebagai penggerak hati, bukan hanya penyampai materi pelajaran. Menurutnya, keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh keteladanan, keikhlasan, dan kemampuan guru membangun hubungan emosional dengan peserta didik.

Adapun pada sesi kedua, Hj. Rika Hardani menekankan pentingnya guru memahami bahwa setiap anak memiliki karakter, kecerdasan, dan potensi yang berbeda. Guru dituntut mampu menemukan kelebihan setiap peserta didik, bukan hanya berfokus pada kelemahannya.

Melalui pendekatan psikologi pendidikan, ia mengajak para guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih humanis, inklusif, dan menghargai keunikan setiap anak sehingga mereka dapat tumbuh sesuai dengan potensi terbaiknya.

Sarasehan Pendidikan Pergunu Bogor Utara diharapkan menjadi langkah awal dalam memperkuat kapasitas guru Nahdlatul Ulama sekaligus membangun jejaring kolaborasi antarpendidik di delapan kecamatan wilayah Bogor Utara. Semangat belajar sepanjang hayat, memperkuat kompetensi, serta menjaga nilai-nilai keislaman dan kebangsaan menjadi pesan utama yang mengemuka dalam kegiatan tersebut.

Kontributor: Abdul Hakim

Kamis, 02 Juli 2026

Korupsi itu Lawan Digitalisasi, Kenapa Nadiem Makarim Harus disingkirkan?

Korupsi itu anti transparansi, kasus Nadiem adalah pertarungan antara kelompok reformis VS kelompok konservatif yang cenderung korup. 

 Siapapun menterinya, Pendidikan kits memang sudah dirancang untuk gagal. 
Untuk memahami akar masalah, narasi, dan data di balik polemik ini, tonton selengkapnya dalam video di bawah ini 👇 

Source:
https://youtube.com/shorts/2SuIxgg7DGU?si=2JNnoxGgH1WQ-mZl


Khotbah di Atas Kuburan: Kisah Empat Ustadz dan Runtuhnya Surga Kami| Ust M. Alatas

By M.Alatas

    Air sungai yang membelah Kampung Sukamaju kembali membawa warna cokelat pekat dari hulu. Banjir kiriman datang lagi, menggenangi pelataran Masjid Jami’ dan sisa-sisa reruntuhan Madrasah Al-Ikhlas yang kini menyerupai fosil purba tengah sekarat.

Namun, di dalam serambi masjid yang kering, aroma persaingan jauh lebih menyengat ketimbang bau lumpur di luar. Di sinilah fanatisme diproduksi secara massal—bukan karena keyakinan yang mendalam, melainkan karena ia adalah komoditas paling laku untuk membalut sebuah sikap pragmatis: isi dompet dan panggung ketenaran.

 *Bab I: Jualan Surga dan Pasar Akidah* 

Pagi itu, Ustadz Khalid berdiri di mimbar subuh dengan wajah sekaku batu kali. Tema ceramah yang dibawakannya sangat radikal: “Bahaya Bid’ah dan Kaum Kemunafikan Modern”. Matanya sesekali melirik ke arah saf tengah, tempat Ustadz Maher duduk sambil memangku tas kamera mirrorless-nya.

"Hati-hati jemaah!" seru Ustadz Khalid, suaranya menggelegar memantul di dinding masjid. "Sekarang banyak ahli agama gadungan yang menjual agama demi likes dan followers! Mengubah manhaj demi menyenangkan penonton! Itu adalah kesesatan yang nyata!"
Jemaah di saf depan, yang rata-rata bapak-bapak sepuh, manggut-manggut dengan wajah tegang. 
Mereka merasa mendapatkan pencerahan yang murni. Mereka tidak tahu bahwa doktrin "paling benar" yang ditiupkan Ustadz Khalid pagi itu punya motif yang sangat sederhana.

Dua hari lagi, pengurus Masjid Jami’ kampung sebelah yang terkenal kaya raya akan memilih khotib Jum'at tetap untuk satu tahun ke depan. Kontraknya bernilai jutaan rupiah per bulan. Dengan mencap Ustadz Maher sebagai "Ustadz Medsos yang menyimpang", Ustadz Khalid sedang membersihkan jalurnya sendiri menuju kursi empuk tersebut. 

Fanatisme golongan sengaja dibakar, agar jemaah mendesak takmir untuk mendepak Maher.

Bab II: *Kontra-Strategi di Balik Layar* 

Ustadz Maher tidak bodoh. Ia tahu persis ke arah mana panah khotbah Ustadz Khalid menghujam.

 Begitu shalat subuh usai dan jemaah mulai bubar, Maher segera memasang tripodnya di sudut teras masjid, membelakangi latar banjir yang dramatis.
Ia memulai Live Streaming dengan judul bombastis: "Menyikapi Golongan Kaku yang Memecah Belah Umat."

"Sahabat hijrah yang dirahmati Allah," ujar Ustadz Maher dengan senyum yang terukur dan suara yang dilembut-lembutkan. "Islam itu luas, dinamis. Jangan mau terjebak oleh pemikiran sekelompok orang yang merasa memonopoli kebenaran dan gemar mengkafirkan sesama. Mereka itu berpikiran sempit, tidak siap menghadapi akhir zaman."
Dalam sekejap, kolom komentar dipenuhi teks bertuliskan "Barakallah Ustadz!" dan ratusan ikon "Hati" beterbangan di layar ponselnya. 

Melalui narasi "inklusif vs eksklusif" ini, Maher berhasil memosisikan dirinya sebagai korban kezaliman Ustadz Khalid.
Apakah Maher peduli pada persatuan umat? Sama sekali tidak.

 Pragmatismenya berkedok keluwesan agama. Semakin ia diserang oleh Khalid, semakin naik engagement akunnya, dan itu berarti semakin banyak tawaran endorse produk herbal dan busana muslim yang masuk ke nomor WhatsApp manajernya.

 *Bab III: Aliansi Taktis Dua Ideolog* 

Di sisi lain kampung, di sebuah rumah joglo yang selamat dari banjir, Ustadz Marwan dan Haji Yazid sedang menikmati kopi luwak. Di atas meja, selembar kertas pembagian jadwal doa tahlil dan santunan kematian untuk wilayah kecamatan terpampang nyata.
"Bagaimana, Ji? Ustadz Khalid dan Ustadz Maher makin tajam berseteru," kata Ustadz Marwan sambil tersenyum sinis.
Haji Yazid menyeruput kopinya lambat-lambat. "Biarkan saja. Makin mereka ribut soal furu'iyah, jemaah makin bingung. Kalau jemaah bingung, mereka butuh kita yang netral. Malam ini, di rumah pengusaha tebu yang meninggal di kampung sebelah, kita pakai narasi 'Islam Nusantara yang Teduh'. Saya pimpin tahlil jahar, sampeyan yang tausiyah kematian."
"Amplopnya bagaimana, Ji?" tanya Marwan, langsung pada inti masalah.
"Aman. Keluarga mereka fanatik dengan tradisi. Kalau kita bungkus doa kita dengan puji-pujian yang menyentuh ego kultural mereka, amplop tebal tidak akan lari ke mana. Kita gunakan sentimen tradisi mereka untuk mengunci proyek tahlilan sampai malam ketujuh," bisik Haji Yazid penuh kemenangan.

Bagi mereka berdua, fanatisme terhadap tradisi leluhur bukanlah soal menjaga kelestarian amalan, melainkan alat proteksi pasar agar ustadz-ustadz muda seperti Khalid dan Maher tidak bisa masuk merusak ladang pencaharian mereka.

 *Bab IV: Korban yang Sebenarnya* 

Sementara keempat pemuka agama itu sibuk merajut jubah fanatisme untuk menutupi sifat pragmatis mereka, realita sosial di Kampung Sukamaju berjalan ke arah yang mengerikan.

Siang itu, beberapa pemuda kampung berkumpul di jembatan darurat yang hampir terendam air. Di tengah-tengah mereka, ada Dullah yang sedang memegang sisa pil koplo. Di sebelah Dullah, seorang remaja lain sedang asyik bertaruh di situs judi bola.

"Heh, lu kagak takut dibilang ahli maksiat sama Ustadz Khalid?" tanya temannya.
Dullah tertawa hambar, matanya merah. "Ah, Ustadz Khalid sibuk ngurusin bid'ah-nya Ustadz Maher. Ustadz Maher sibuk nyari viewer. Kagak ada waktu mereka mikirin perut kita yang kelaparan gara-gara banjir. Agama mereka mah cuma buat di TV sama di mimbar. Buat kita? Kagak ada gunanya."
Tepat saat Dullah berbicara, mobil sedan mewah milik Ustadz Marwan lewat membelah genangan air, hendak menjemput Haji Yazid menuju acara tahlilan mewah di kecamatan seberang. Cipratan air keruh dari ban mobil itu mengenai celana para pemuda di jembatan. Namun, kaca mobil tetap tertutup rapat, hitam dan angkuh.
Di ujung jalan, bangunan Madrasah Al-Ikhlas yang runtuh total minggu lalu kini mulai ditumbuhi tanaman liar. Tempat yang dulu melahirkan ketulusan, kini mati. Di kampung itu, atas nama fanatisme kelompok, kebenaran telah disembelih di atas altar kepentingan pribadi. Semua orang berteriak demi Tuhan, padahal mereka sedang mengantre di depan meja kasir takdir.
Tabik

Epistemologi Az-Zikr dan Dekadensi Kesadaran Kolektif: Studi Kritis QS. Al-Hijr 10–15| Mahdi Alatas

By: M.Alatas

══════════════════

ABSTRAK
Tulisan ini membahas patologi sosial-epistemik masyarakat penentang kebenaran transendental melalui analisis multidimensi terhadap Surat Al-Hijr ayat 10-15. Dengan mengintegrasikan metode Tafsir Al-Qur'an bil Qur'an, pendekatan epistemologi Islam, tafsir kritis, dan tafsir kemasyarakatan (ijtima'i), studi ini bertujuan mengurai faktor mendasar di balik resistensi kolektif terhadap wahyu.

Melalui pelacakan gramatikal (ruju'ud dhamir), penelitian menetapkan bahwa objek yang diinjeksi (naslukuhu) dan ditolak (la yu'minuna bihi) oleh kaum mujrimin secara konsisten merujuk pada Az-Zikr (Al-Qur'an).

*Hasil penelitian menunjukkan dua temuan utama:

1. Penolakan terhadap kebenaran disebabkan oleh disfungsi instrumen kognitif (hati/qalb) yang dianalogikan sebagai "wadah yang rusak." Kerusakan ini memicu bias konfirmasi dan skeptisisme destruktif akut.
2. Analisis semantik terhadap terma Syi'a' (faksi/aliansi) menyingkap adanya dualitas sosiologis (konsolidasi negatif sekaligus potensi persatuan umat).

══════════════════

*TEKS & TERJEMAHAN (QS. AL-HIJR 10-15)

(10) وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ فِي شِيَعِ الْأَوَّلِينَ
(11) وَمَا يَأْتِيهِمْ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا كَانُوا بِهِ يَسْتَهْزِئُونَ
(12) كَذَلِكَ نَسْلُكُهُ فِي قُلُوبِ الْمُجْرِمِينَ
(13) لَا يُؤْمِنُونَ بِهِ ۖ وَقَدْ خَلَتْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ
(14) وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ
(15) لَقَالُوا إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَسْحُورُونَ

*Artinya:
"Dan sungguh, Kami telah mengutus sebelummu (Muhammad) pada umat-umat yang terdahulu. Dan tidak ada seorang rasul pun yang datang kepada mereka, melainkan mereka selalu memperolok-olokkannya. Demikianlah, Kami memasukkannya (Al-Qur'an) ke dalam hati orang-orang yang berdosa. Mereka tidak beriman kepadanya (Al-Qur'an) dan bersambunglah sunnah orang-orang terdahulu."

"Dan kalau Kami bukakan kepada mereka salah satu pintu langit, lalu mereka terus-menerus naik ke atasnya, tentulah mereka berkata, 'Sesungguhnya pandangan kamilah yang dikaburkan, bahkan kami adalah orang-orang yang terkena sihir'."

══════════════════

*1. STRUKTUR TEKSTUAL DAN KONSISTENSI RUJU'UD DHAMIR

• Berdasarkan kaidah gramatikal, kata ganti (*dhamir*) "hu" pada kata *Naslukuhu* (ayat 12) dan *bihi* (ayat 13) konsisten merujuk pada Az-Zikr / Al-Qur'an.
• *Kesimpulan Teologis:* Al-Qur'an sebenarnya telah sampai, masuk, dan dipahami di ruang kesadaran (*qalb*) para penentangnya.
• Kegagalan hidayah bukan karena pesan tidak sampai, melainkan karena penolakan dari "wadah" penerima yang rusak.

═════════════════

*2. SEMANTIK TERM SYI'A' (SYI'AH)

• Secara etimologi, *Syi'a'* bermakna kelompok/faksi yang menyebar namun saling mengikatkan diri berdasarkan ideologi/kepentingan bersama.
• Di satu sisi, ini mengindikasikan aliansi negatif kolektif kaum terdahulu untuk menolak kebenaran.
• Di sisi lain, watak semantiknya netral dan dapat ditransformasikan menjadi instrumen positif: *persatuan umat (kolektivitas) dalam melawan keburukan*.

> *Jika kaum batil bisa solid, pengikut kebenaran wajib lebih terstruktur.

══════════════════

*3. DIMENSI EPISTEMOLOGI: "TEORI WADAH RUSAK"

• Hati (*qalb) adalah instrumen kognitif tertinggi untuk menangkap realitas transendental. Dosa dan takabur bertindak sebagai zat korosif yang merusaknya.
• *Analogi:* Kebenaran wahyu seperti air murni, dan hati adalah bejananya. Jika wadahnya kotor/berkarat, air murni pun akan terdistorsi dan hanya menjadi bahan olok-olok.
• Puncaknya (ayat 14-15), mereka terjebak dalam *positivisme ekstrem* dan *skeptisisme destruktif*: andai diberi bukti kosmologis sebesar menembus pintu langit pun, mereka akan menuduhnya sebagai ilusi/sihir demi kenyamanan subjektif.

══════════════════

*4. PENDEKATAN KRITIS: OPOSISI STATUS QUO & PERTAHANAN MENTAL

• Tindakan memperolok rasul (*istihza'*) dan tuduhan sihir (*mashurun*) adalah *instrumen hegemoni sosial* untuk melawan manifesto emansipatif nabi yang mengancam struktur kelas, ekonomi korup (riba/monopoli), dan feodalisme elit.
• Karena tidak mampu mematahkan argumen wahyu secara rasional, kaum elit melakukan pembunuhan karakter (*character assassination*).
• Tuduhan "disihir" adalah bentuk *gaslighting* kolektif sekaligus mekanisme pertahanan psikologis karena merubah kebiasaan lama terasa berat bagi mental yang korup.

══════════════════

*5. STUDI KOMPARATIF FILOLOGIS

Perbandingan dengan QS. Ash-Shu'ara: 200 menunjukkan perbedaan waktu (*tense*) yang mendalam:

• *Naslukuhu (QS. Al-Hijr):* Menggunakan *fi'il mudhari* (present/continuous), mengindikasikan proses penolakan ini dinamis, segar, dan terus berulang di setiap generasi baru.
• *Salaknahu (QS. Ash-Shu'ara):* Menggunakan *fi'il madi* (past/perfect), menegaskan bahwa penolakan tersebut adalah fakta sejarah yang pasti terjadi dan terkunci sebagai hukum peradaban (*sunnatul awwalin*).

══════════════════

*6. TAFSIR KEMASYARAKATAN (IJTIMA'I): METODOLOGI DAKWAH

• *Dakwah Multi-Sarana:* Perumpamaan "membuka pintu langit" mewajibkan da'i memaksimalkan segala media dan pendekatan ilmiah agar tidak ada celah bagi masyarakat untuk beralasan tidak tahu.
• *Fungsi Tasliyah (Hiburan Spiritual):* Menegaskan pemisahan antara "ikhtiar menyampaikan" dan "hasil akhir". Jika kebenaran ditolak setelah disampaikan total, kegagalan bukan pada pembawa pesan, melainkan ketidaklayakan tempat penampungannya. Formula ini sangat relevan untuk menghadapi era *post-truth.