Minggu, 05 April 2026

Lukisan Abstrak: Kepekaan Batin Manusia Tetap Lebih Penting bahkan di Era AI...

Kompassantri-online, Jakarta - Dunia seni lukis abstrak memiliki latar panjang dari tiap seniman saat memilih aliran ini. 
Salah satunya adalah Dedih Nur Fajar yang memiliki latar profesi film dan fotografi. Dalam dunia film dan fotografi, dia terbiasa dengan bentuk dan obyek visual. Ini menjadi latar dia saat memilih lukisan abstrak. 
"Saya menyebutnya imaji yang samar. Ini jadi keseimbangan bagi saya. Guratan lukisan tak mau dibentuk," ujar Dedih. 
Dia mengolah emosi dan menuangkannya dalam karya akrilik yang dia oplos media tertentu sehingga karya abstrak didominasi warna hitam dengan sapuan, guratan ekspresif. Keempat lukisan yang berukuran 50 x 50 cm dan dihasilkan pada 2025 itu berjudul Katarsis Visual Takut Katarsis Visual Marah, Katarsis Visual Sedih dan Katarsis Visual Kecewa, memiliki kontur yang tebal.
Bedanya, Dedih membuat karya justru di saat dia berada dalam emosi yang sebaliknya. "Katarsis Visual Sedih misalnya, saya buat justru dalam keadaan bahagia," tambahnya.
Baginya, abstrak yang sangat psikologis justru merupakan reaksi, respon bahkan antitesis dari kondisi konvensional yang mapan termasuk di era digital ini. "Kalau kita hidup hedon dan nyaman mungkin kita jauh untuk menghadirkan karya abstrak. Perlawanan dapat muncul dalam kehidupan dan fase kita sekarang yang kompleks ini," ujar Dedih, Minggu (4/4/2026). 
Perupa lainnya, Guntur jongmerdeka menghadirkan dua karya dengan medium campuran dan keunikan bingkainya. Memasuki imaji semesta diresponnya dengan kehadiran warna. 
"Spektrum Semesta menggunakan sistem heksagon abstrak saling bertaut untuk melambangkan jaringan energi kompleks ciptaan Allah. Garis silver metalik di dasar kanvas jadi penyeimbang visual, simbol batas realitas dan imajinasi sejalan dengan ajaran Al-Qur'an tentang keseimbangan, keteraturan dan harmoni semesta," tambahnya. 
Pelukis dan pengajar Institut Kesenian Jakarta Dick Syahril yang didaulat ikut membuka acara di pameran ini melihat bahwa abstrak tetap akan dinamis mencari bentuk dan perannya bahkan di masa digital saat ini. "Hingga saat ini di tengah perkembangan pasar seni rupa, kebutuhan masyarakat global tetap dibutukan. Namun seni rupa abstrak tak hanya itu. Terus merespon kondisi zaman di masa digital," paparnya.

Respon Global 

Pameran Rupa Abstrak yang bertajuk Segala Garis Ruang Imajiner yang Terbuka Tegak Lurus dengan Rasa digelar di RasaHarsa Coffee Shop & Eatery Jl. Sunan Sedayu No.15 Rawamangun Jakarta ini dikuratori oleh Saut Mangihut Marpaung.
Pameran abstrak yang digelar sejak Minggu (5/4/2026) hingga 19 April 2026 ini sekaligus mempertemukan gagasan tentang seni yang tak lagi sekadar bentuk dan tak kasat mata. 
Rasa para seniman adalah kepekaan batin yang terakumulasi dari pengalaman hidup, memori visual, luka, kegembiraan hingga perenungan eksistensial. 
Dalam katalog kurasinya, Saut melihat bahwa setelah para perupa menemukan pijakannya di awal abad ke-20 lewat Wassily Kandinsky, Piet Mondrian dan Kazimir Malevich. Mengubah representasi obyek nyata menjadi bentuk paling esensial. Kandinsky memaknai warna dan garis sebagai resonansi spiritual, Mondrian mereduksi bentuk menjadi struktur geometris yang universal sementara Malevich menghadirkan supremasi rasa lewat bentuk paling sederhana membebaskan seni dari beban representatif.
Bagaimana pameran abstrak ini di tengah kondisi global dan digital saat ini? Bagi Saut, ke depannya, abstrak akan bergerak melampaui batas konvensional. Ia akan memasuki ruang digital melalui kecerdasan buatan (AI), realitas virtual, dan metaverse, menjadi lebih interaktif dan imersif. Namun semuanya tetap berakar pada yang tak tergantikan: rasa manusia. Kepekaan batin tetap akan menjaga seni tetap hidup dan bermakna. 
Selain Dedih dan Guntur jongmerdeka, 23 pelukis turut berpameran yaitu Agam Akbar Pahala, Alexander Halpito, Anggi Heru, Danny Yuwanda, de Laurent, Ela Meilasari, Elvi Desiyanti, Fella Amelia, Irlandi Kartika, Johan Hutapea, Kak Johan Sayang Kalian, Nadila Restu Iswara, Oscar Stones. Philips Sambalao, Rizki Taufik Rahman, Rudz, Shamady Nura, Toya, Walid Syarthowi, Yogi Wistyo dan Zikril Gimbal. Pameran diiniasi oleh Mozari - Motorakzart Society, sebuah komunitas para seniman lukis. 
.###

Sabtu, 04 April 2026

Harga Plastik di Indonesia Melokjak, Pelaku Usaha Kewalahan

Jakarta, Kompassantri-Kenaikan harga plastik di Indonesia akhir-akhir ini menjadi perhatian serius bagi banyak pelaku usaha. Hal ini disebabkan oleh lonjakan konflik antara Amerika, Israel, dan Iran yang berdampak pada kenaikan harga minyak dan gangguan rantai pasok global.

Menurut data dari Prima Plastindo, harga biji plastik seperti GPPS, HIPS, ABS, dan AS mengalami kenaikan signifikan, yaitu sekitar USD 50-150 per ton dalam waktu singkat. Kenaikan ini disebabkan oleh kenaikan harga minyak dan naphtha global, serta gangguan logistik di Selat Hormuz.

Dampaknya, biaya produksi industri plastik di Indonesia meningkat 8-15%, sehingga banyak pelaku usaha yang mengurangi kapasitas produksi dan menunda pengadaan bahan baku. Harga plastik polos yang biasa digunakan untuk kemasan makanan ringan juga melonjak dari Rp30 ribu menjadi Rp50 ribu per kilogram ¹ ².

"Kalau dulu kami bisa tunggu sampai akhir bulan untuk beli resin, sekarang kami harus beli mingguan. Takutnya harga naik terus," kata seorang Purchasing Manager Pabrik Elektronik di Bekasi.

Pelaku usaha disarankan untuk melakukan strategi pembelian yang lebih fleksibel, seperti membeli dalam volume kecil tapi cepat, serta mencari alternatif bahan baku yang lebih stabil. Selain itu, industri plastik juga perlu meningkatkan stok safety minimum dan melakukan negosiasi harga dengan supplier

Menurut pelaku pasar langsung, diantaranya pedagang plastik Nina salahsatunya yang ada di wilayah Cipayung, Jakarta Timur. Bahwa kenaikan harga plastik berada di kisaran 50 s/d 60 persen. 
Modal untuk pembelanjaan pun harus meningkat tajam. Kendati demikian, uang modal tersebut tidak bisa sepenuhnya memenuhi kuota untuk item pembelanjaan barang yang diperlukan. Selain itu, terjadi kelangkaan barang yang belum diketahui penyebabnya secara langsung. 
Teriakan pedagang di kalangan pengecer sangat keras. Sampai kapan ini harus berlangsung. Dilema terjadi di kalangan pedagang pengecer, apakah harus menaikkan harga atau menurunkan pemilihan kualitas barang/plastik kantong yang dijual.
Kiranya, pemerintah bisa lebih memperhatikan fenomena kenaikan harga plastik saat ini, dan langkah taktis apa yg harus dilakukan, agar UMKM bisa terus berkembang.(Alwi/Foto:Ratna K.)

Menteri Ekraf Terima Kunjungan Amsal Sitepu, Perkuat Mitigasi dan Perlindungan Pegiat Kreatif

KEMENTERIAN EKONOMI KREATIF/BADAN EKONOMI KREATIF

*Kementerian Ekraf Tegaskan Peran Penting Pegiat Ekraf Daerah saat Bertemu Amsal Sitepu

Kompassantri-online, Jakarta, 2 April 2026* – Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) terus memperkuat upaya mitigasi dan perlindungan bagi pegiat ekonomi kreatif. Hal ini ditegaskan Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, saat menerima kunjungan videografer asal Kabupaten Karo, Amsal Christy Sitepu, di Kantor Kementerian Ekraf, Kamis (2/4).

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari langkah Kementerian Ekraf untuk membuka ruang dialog sekaligus menyerap masukan dari pegiat ekonomi kreatif, guna memastikan kejadian proses hukum yang menimpa Amsal tidak terulang di masa mendatang.

Menteri Ekraf menegaskan bahwa masukan dari pegiat ekonomi kreatif merupakan elemen penting dalam memperkuat ekosistem sekaligus menghadirkan perlindungan yang lebih baik bagi para pegiat ekonomi kreatif.

“Kementerian Ekonomi Kreatif sedang menyusun pedoman yang akan kami sosialisasikan baik itu ke aparat penegak hukum, auditor, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan, yang kaitannya nanti dengan jasa kreativitas, yang mungkin bisa menjadi acuan. Kami konsultasi juga dengan Kementerian Hukum. Apakah pedoman ini cukup di Kepmen (Keputusan Menteri) atau Permen (Peraturan Menteri) atau mungkin harus dimasukkan ke Peraturan Menteri Keuangan. Supaya daerah juga bisa memahami lebih jelas aturan main dalam memberikan pekerjaan kepada para pegiat ekonomi kreatif,” jelas Menteri Ekraf.

Kehadiran Amsal merupakan langkah Kementerian Ekraf dalam merespons pegiat ekonomi kreatif daerah. Mengingat, perkembangan industri kreatif Tanah Air tidak lepas dari peran mereka. Dengan begitu diharapkan penguatan ekosistem ekonomi kreatif di daerah terus melonjak hingga level internasional.

“Dan industri kreatif ini tidak hanya di kota-kota besar karena perkembangannya justru banyak di daerah-daerah. Tentu ini karena kehadiran kita semua. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, tapi kehadiran kementerian, pemerintah daerah, asosiasi, para tokoh dan pegiat ekonomi kreatif, bagaimana sama-sama kita terus memperkuat industri kreatif Indonesia bisa semakin berkembang,” ujar Menteri Ekraf.

Sementara itu, Amsal Sitepu mengapresiasi langkah Kementerian Ekraf yang membuka ruang diskusi bagi pegiat ekonomi kreatif. Menurutnya, ekonomi kreatif Indonesia tengah berkembang pesat sehingga apa yang dijalani diharapkan bukan menjadi kekhawatiran bagi semua pegiat ekonomi kreatif. Terlebih Kementerian Ekraf memiliki fasilitas informasi yang bisa dimanfaat untuk mereka.

“Saya juga mau bilang ke teman-teman pekerja ekonomi kreatif di seluruh Indonesia, kita harus lebih aktif, jangan hanya fokus pada karya, tapi juga melihat dan memanfaatkan layanan yang ada seperti di Kementerian Ekonomi Kreatif. Jangan lihat proses ini sebagai masalah, tapi sebagai evaluasi supaya ekonomi kreatif kita bisa berkembang. Saya yakin ini jadi momentum, ke depan anak-anak muda tidak akan takut lagi untuk berkarya,” ujar Amsal.

Sebelumnya, Amsal Sitepu merupakan pegiat ekonomi kreatif di Kabupaten Karo yang baru saja divonis bebas Pengadilan Negeri Medan dalam perkara pembuatan video profile desa di wilayah itu.

Kementerian Ekraf berkomitmen menghadirkan layanan publik yang transparan, akuntabel, dan responsif. Pegiat ekonomi kreatif dapat memanfaatkan fasilitas yang disediakan sebagai langkah mitigasi terhadap potensi risiko yang dihadapi dalam praktik kerja kreatif.

Upaya ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang lebih aman, kondusif, dan berkelanjutan bagi seluruh pelaku industri di Indonesia.

*Kiagoos Irvan Faisal*
*Kepala Biro Komunikasi*
*Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif*

Untuk informasi terkini terkait Kementerian Ekonomi Kreatif, 
kunjungi https://ekraf.go.id/news.

Ribuan peziarah mengikuti tradisi cium Tuan di kapel Tuan Ma Larantuka Flores Timur

Kompassantri-online, Larantuka, Kompassantri-Larantuka, Flores Timur, dikenal sebagai kota yang sangat kuat menjalani tradisi tua kekatolikan dengan devosi Katolik kepada Bunda Maria sebagai pusat iman. Salah satu tradisi yang paling sakral adalah nyembah Tuan Ma, yaitu patung Bunda Maria yang diyakini dapat menyembuhkan penyakit dan mengusir setan.

Tradisi ini dimulai sejak penemuan Patung Tuan Ma di Pantai Larantuka pada tahun 1510, yang diperkirakan terdampar di pantai akibat karamnya kapal milik Portugis. Patung tersebut kemudian disimpan di rumah pemujaan korke dan menjadi objek penghormatan bagi masyarakat setempat.

Setiap tahun, umat Katolik di Larantuka mengadakan prosesi Semana Santa, yang dimulai dari Minggu Palma hingga Minggu Paskah. Pada hari Jumat Agung, patung Tuan Ma diarak keliling kota, diikuti oleh ribuan umat yang berdoa dan bernyanyi.

Tradisi nyembah Tuan Ma ini tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga sebagai simbol kekuatan iman dan kesetiaan masyarakat Larantuka kepada Bunda Maria Foto : Emilia Riberu.